KataAjip Rosidi (1969: 178), kisah ini sangat mengharukan dan ditulis dengan halus mengajuk hati wanita, sedangkan Prihatmi (1977: 50) menyatakan bahwa novel ini mampu memukau perhatian pembaca. Seorang yang lembut, jujur, sederhana, dan selalu memilih kedamaian hati telah ditampilkan pengarang sebagai tokoh utama. Darinovel tersebut penulis ingin menganalisis makna kolokatif dengan judul Analisis Makna Kolokatif dalam Novel Malula Karya Moch. Subhan zein serta Implikasinya dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA.Dalam novel ini banyak terdapat kata-kata yang maknanya sudah berubah kolokasinya. Umumnya para pengamat sastra Indonesia menempatkan novel Azab dan Sengsara ini sebagai novel pertama Indonesia dalam khazanah Siregardalam mengantarkan novelnya Azab dan Sengsara menulis, “Hal-hal dan kejadian yang tersebut dalam buku ini, meskipun seakan-akan tiada mungkin dalam pikiran pembaca, adalah benar belaka, cuma waktunya terjadinya kuatur – artinya dibuat berturut-turut – supaya cerita itu lebih nyata dan terang.” (1985:7). Dalamnovel azab dan sengsara digambarkan juga bahwa orang tua mariamin, nuria juga secara paksa dikawinkan dengan sutan baringin, orang yang sama sekali tidak dicintainya. (hal.69). jadi, tradisi tersebut sudah turun-menurun sejak dari nenek, ibu hingga anak. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis Mariaminsangat menderita akibat tingkah laku ayahnya. Ia selalu dihina oleh warga kampung, karena hidupnya sengsara, cinta kasih wanita yang berbudi luhur ini dengan Aminu’ddin pun mendapat halangandari kedua orang tua Aminu’ddin. Persahabatan Aminudin dan Mariamin terjalin semenjak masa kanak-kanak. NOVELDAN KRITIK SASTRA. Gol. Proletar bertambah. KESUSASTRAAN TENKO • Tahun 1931, terjadi insiden Manchuria dan sastra proletar makin ditindas. Tahun 1934, organisasi sastra proletar dibubarkan, penulisnya banyak ditangkapi dan disuruh melakukan perubahan ideologi “tenkoo”. • Maka muncul-lah tenkoo bungaku (sastra peralihan) antara JUDULNOVEL KARYA ANGKATAN 30-AN. Ciri-ciri Angkatan 30-an (Pujangga Baru) 1. Menggambarkan pertentangan kehidupan orang-orang kota, soal emansipasi wanita. 2. Hasil karyanya mulai bercorak kebangsaan; memuat soal kebangunan bangsa. 3. Gaya bahasanya sudah tidak menggunakan perumpamaan klise, pepatah, peribahasa. 4. Azabdan Sengsara | m.nomor.net. Azab dan Sengsara Azab dan Sengsara Penulis Merari Siregar Negara Indonesia Bahasa Indonesia Genre Novel Penerbit Balai Pustaka Tanggal terbit 1920 Media Cetak (hardback & paperback) Halaman 123 (cetakan ke 29) ISBN 978 979 407 168 7 (cetakan ke 29) Azab dan Sengsara adalah sebuah novel tahun 1920 yang ditulis oleh RomanAzab dan sengsara disusun pada tahun 1920 dan cetakan pertama pada tahun 1927, dimana pada waktu itu bangsa Indonesia tengah berjuang untuk merebut kemerdekaannya dari tangan penjajahan Bangsa Jepang. Meskipun begitu, jalan cerita di dalamnya tidak menyinggung masalah peperangan yang terjadi pada waktu roman ini dibuat. Sejakterbitnya novel Azab dan Sengsara karya Merari Siregar pada tahun 1921, maka mulailah masa baru kesusastraan Indonesia (Soemardjo : 1982). Kesusastraan yang muncul pada tahun 1921 ini kemudian disebut sebagai Kesusastraan Indonesia Modern. Tradisi bersastra lama pun mulai ditinggalkan. Bentuknya bukan lagi pantun, hikayat maupun syair, namun Asupnanovel kana sastra Sunda téh mangrupa pangaruh sastra barat, utamana Walanda. Novel munggaran dina sastra sunda nyaéta Baruang kanu Ngarora karangan Daéng Kanduran Ardiwinata (D.K. Ardiwinata), terbit taun 1914. Upama dibandingkeun jeung novel munggaran dina sastra Indonesia, Azab dan Sengsara karangan Merari Siregar, anu terbit taun 1920, NovelAzab dan Sengsara(1920) oleh Merari Siregar membicarakan tentang masalah adat yang terdapat dalam masyarakat Mandailing di Sumatera Utara. Variabel yang akan dipilih berdasarkan kepada novel-novel-novel yang dipilih dan dalam proses analisis novel tersebut, penekanan yang akan diberikan keutamaan ialah watak, latar, dan tema. Judulnovel tersebut adalah azab dan sengsara karya merari siregar siti nurbaya karya marah rusli salah asuhan karya abdul muis dan hulubalang raja karya nur sutan iskandar. Analisis aspek latar sosial budaya dalam novel perahu kertas karya dewi lestari. 6). Genre sastra berbentuk novel atau roman, puisi masih berbentuk pantun dan syair. Contoh Karya Sastra Balai Pustaka: • Azab dan Sengsara (Merari Siregar) • Siti Nurbaya (Marah Rusli) • Muda Teuna (Nur St.Iskandar) Referensi: Muhri. 2016. Sejarah Ringkas KESUSASTRAAN INDONESI. Jawa Timur: Yayasan Arraudlah Bangkalan. 9102. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Novel "Azab dan Sengsara" karya Merari Siregar merupakan novel klasik dari tahun 1920. Melalui novel ini, sang pengarang ingin menunjukkan adat dan kebiasaan yang kurang baik di daerahnya menggunakan cerita mengenai kesengsaraan gadis yang diakibatkan oleh adat dan kebiasaan tersebut. Walaupun cerita yang ia tuliskan dalam novel ini terlihat tidak nyata dan dibuat-buat, tetapi sebenarnya ia menuliskannya sesuai dengan fakta yang ada. Novel ini juga dianggap sebagai tonggak lahirnya novel modern di Indonesia karena sudah tidak lagi berbentuk hikayat. Meskipun demikian, di dalam novel ini tetap mengangkat persoalan kehidupan sehari-hari sama halnya dengan hikayat. Namun yang membedakan adalah ditampilkannya unsur-unsur kritik lebih terperinci, novel ini mengisahkan kisah cinta antara Aminuddin dan Mariamin, keduanya berasal dari daerah Sipirok, Tapanuli, Sumatera Utara, tetapi dari keluarga yang cukup berbeda dalam segi status sosial. Tentu kisah cintanya tidak luput dari berbagai konflik dan komplikasi, mulai dari perbedaan status sosial, kehadiran peramal, tipu muslihat, kecemburuan, paksaan, siksa, perceraian, hingga diakhiri dengan ajal Mariamin. Seluruh konflik tersebut pun terjadi diakibatkan oleh adanya kepercayaan pada adat dan kebiasaan setempat yang sangat kuat di masyarakat. Beberapa di antaranya adalah sistem perjodohan, sikap materialistis, dan kepercayaan pada dukun. Hal-hal tersebut pun masih kerap terjadi hingga zaman milenial ini, tidak hanya di daerah, tetapi bahkan juga di perkotaan besar. Oleh karena kayanya kandungan nilai sosial budaya yang relevan dalam hidup keseharian orang dan ingin disampaikan oleh pengarang, novel "Azab dan Sengsara" akan sangat cocok dianalisis menggunakan pendekatan pragmatik. Pendekatan pragmatik merupakan pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sarana untuk menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca. Dalam novel "Azab dan Sengsara" secara khusus pengarang ingin menunjukkan adat dan kebiasaan sosial budaya di daerah setempatnya, yaitu adat-istiadat Batak Angkola. Selain itu pendekatan pragmatik mengkaji karya sastra berdasarkan fungsinya untuk memberikan tujuan-tujuan tertentu bagi pembacanya. Sehingga semakin banyak nilai-nilai yang didapatkan oleh pembaca maka semakin baik karya sastra tersebut. Dalam novel "Azab dan Sengsara", kebiasaan yang sangat ingin perlihatkan oleh pengarang adalah kawin paksa dalam adat Minangkabau. Masyarakat Tapanuli pada tahun 1920-an sangat memperhatikan tentang perkawinan. Pada zaman itu, masyarakat akan memandang jelek jika seorang anak perempuan tidak cepat-cepat memiliki suami. Sehingga para orang tua akan menyuruh anaknya untuk kawin dengan laki-laki yang mereka anggap dapat memberikan keberuntungan bagi anak perempuannya. Sang anak pun tidak dapat menolak, walaupun ia tahu ia tidak akan bahagia. Hal-hal tersebut pun berkali-kali disebutkan pada novel "Nyata sekarang betapa berbahayanya perkawinan yang dipaksakan itu, yang tiada disertai kasih keduanya. Maka jadi kewajibanlah bagi tiap-tiap orang yang tahu akan membuangkan adat itu dan kebiasaaan yang mendatangkan kecelakaan kepada manusia itu. Bukankah perkawinan yang lekas-lekas itu membinasakan perempuan? Ia dikawinkan oleh orang tuanya dengan orang yang disukainya" Siregar, 1936, hal. 67"Karena bolehlah nanti di belakang hari mendatangkan malu, apabila anaknya itu tiada dipersuamikan. Orang yang tinggal gadis itu menjadi gamit-gamitan dan kata-kataan orang." Siregar, 1936, hal. 162Kawin paksa pun tidak hanya dialami oleh Mariamin sebagai seorang perempuan, tetapi juga terhadap Aminuddin. Hal tersebut terjadi karena tuntutan ayah Aminuddin, Baginda Di Atas, yang merupakan seorang kepala kampung dan memiliki status sosial yang cukup tinggi. Walaupun Aminuddin sudah mengatakan kepada orang tuanya bahwa ia menginginkan Mariamin menjadi istrinya, tetapi karena ayahnya berkehendak lain, maka hal itu tentu tidak dapat terwujud. Ayah Aminuddin tidak menginginkan perkawinan Aminuddin dan Mariamin terjadi karena adanya kesenjangan sosial di antara kedua keluarga, sehingga ia merasa Mariamin tidak pantas untuk Aminuddin."Benar perbuatan kami ini tiada sebagai permintaan Ananda, tetap janganlah anakku lupakan kesenangan dan keselamatan anak itulah yang dipikirkan oleh kami orang tuamu. Oleh sebab itu haruslah anak itu menurut kehendak orang tuanya kalau ia hendak selamat di dunia. Itu pun harapan bapak dan ibumu serta sekalian kaum-kaum kita anakku akan menurut permintaan kami yakni ananda terimalah menantu Ayahanda yang kubawa ini!" Siregar, 1936, hal. 151-152 Perbuatan-perbuatan kedua orang tua Aminuddin dan Mariamin sebenarnya memiliki maksud yang baik. Mereka menginginkan yang terbaik bagi anak-anaknya yang sesuai dengan adat dan kebiasaan agar tidak dipandang jelek oleh masyarakat sekitarnya. Namun akibatnya justru menyebabkan kesengsaraan yang dialami turun-temurun. Kawin paksa dan perjodohan menyebabkan kebahagiaan para anak muda menjadi diabaikan. Tidak sedikit masyarakat pun yang dijodohkan di bawah umur. Ketidakbahagiaan itu sangat terlihat dalam kehidupan Mariamin. Suaminya seringkali memaksa Mariamin untuk melakukan hal yang tidak ia ingin lakukan dan menyiksanya. Perlakuan itu amat sering diulang, dapat dibuktikan melalui kutipan berikut"Pertengkaran yang serupa itu kerap kali kejadian di antara mereka itu, sehingga akhir-akhirnya Kasibun yang bengis itu tak segan menampar muka Mariamin. Bukan ditamparnya saja, kadang-kadang dipukulnya, disiksainya..." Siregar, 1936, hal. 178Kutipan di atas membuktikan bahwa kebiasaan kawin paksa yang dilakukan masyarakat setempat itu kurang baik. Perkawinan yang seharusnya membawa kebahagiaan bagi kedua belah pihak, justru dijadikan seperti dagangan dan menjadi sengsara. Kebiasaan kawin paksa itu seringkali dilakukan oleh para orang tua karena gengsi. Perilaku tersebut memang sangat kuat melekat pada manusia. Manusia tidak ingin dinilai jelek oleh orang-orang di sekitarnya, hingga berbuat apapun demi kepuasan sendiri. Tentu hal itu tidak benar karena setiap manusia memiliki sudut pandang dan jalan yang berbeda-beda, sehingga orang-orang disekitarnya tidak dapat memaksakan kehendaknya bahkan orang tuanya sekali pun. Satu hal yang bisa dilakukan orang tua adalah cukup menasihati anaknya. 1 2 Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya COVER BOOK A. SINOPSIS NOVEL “AZAB DAN SENGSARA” KARYA MIRARI SIREGAR I. Identitas buku 1. Judul buku Azab dan Sengsara 2. Pengarang Merari Siregar 3. Tahun Terbit 1920 4. Penerbit Balai Pustaka II. Sinopsis Karena pergaulan mereka sejak kecil dan hubungan saudara sepupu, antara Mariamin dan Aminuddin terjadilah jalinan cinta. Ibu Mariamin, Nuria menyetujui hubungan itu karena Aminuddin adalah seorang anak yang baik budinya lagipula ia ingin putrinya dapat hidup berbahagia tidak selalu menderita oleh kemiskinan mereka. Orang tuanya Amiuddin adalah seorang kepala kampung,bangsawan kaya dan disegani oleh bawahannya karena sifatnya yang mulia dan kerajinan kerjanya. Ayahnya bernama Baginda Diatas dan sifatnya menurun pada anaknya. Sedangkan keluarga Mariamin adalah keluarga miskin disebabkan oleh tingkah laku ayahnya almarhum yang suka berjudi, pemarah, mau menang sendiri,dan suka berbicara kasar. Akibatnya keluarganya jauh miskin hingga akhir hayatnya, Tohir Sultan Baringin mengalami nasib sengsara. Hubungan mereka ternyata tidak mendapat restu dari Baginda Diatas karena keluarga Mariamim adalah keluarga miskin bukan dari golongan bangsawan. Suatu ketika Aminuddin memutuskan untuk pergi meninggalkan Sipirok pergi ke Deli Medan untuk bekerja dan berjanji pada kekasihnya untuk menikah jika saatnya dia telah mampu menghidupinya. Sepeninggal Aminuddin, Mariamin sering berkirim surat dengan Aminuddin. Dan ia selalu menolak lamaran yang datang untuk meminangnya karena kesetiaannya pada Aminuddin. Setelah mendapat pekerjaan di Medan Aminuddin mengirim surat untuk meminta Mariamin untuk menyusulnya dan menjadi istrinya. Kabar itu disetujui oleh ibunya Aminuddin ,akan tetapi Baginda Diatas supaya tidak menyakiti hati istinya diam-diam pergi ke dukunmenanyakan siapakah jodoh sebenarnya Aminuddin. Maka dikatakannya bahwa Mariamin bukanlah jodoh Aminuddin melainkan seorang putri kepala kampung yang kaya dan cantik maaf dan menyesali segala perbuatanya setelah melihat sifat-sifat Mariamin yang baik. Beberapa bulan kemudian Mariamin dinikahkan oleh seorang kerani yang belum dikenalnya,bernama Kasibun. Yang ternyata Tanpa sepengetahuan Aminuddin, Baginda Diatas membawa calon menantunya hendak dijodohkan dengan Aminuddin di Medan. Ternyata Aminuddin kecewa mendapat bukan pilihannya, akan tetapi ia tidak dapat menolak keinginan ayahnya serta adat istiadat yang kuat. Kemudian diberitahukan Mariamin bahwa pernikahannya tidak berdasarkan cinta dan ia minta maaf serta bersabar menerima cobaan ini. Mariamin jatuh sakit karena cintanya yang terhalang. Suatu hari Baginda Diatas datang hendak minta diketahui ia baru menceraikan istrinya di Medan untuk mengawini Mariamin. Suatu ketika Aminuddin mengunjungi Mariamin di rumahnya, namun menimbulkan kecurigaan dan rasa cemburu dalam diri Kasibun. Kemudian Kasibun menyiksa Mariamin dan merasa tidak tahan hidup bersama suaminya,ia kemudian melapor pada polisi dan suaminya kalah perkara dengan membayar denda. Kasibun harus mengaku bersalah dan merelakan bercerai darinya. Mariamin merasa bersedih dan ia pulang ke Sipirok rumah ibunya. Badannya kurus dan sakit-sakitan, hingga akhirnya meninggal dunia dengan amat sengsara. Pengarang ingin menceritakan dua orang bersaudara yang menjalin hubungan cinta, namun terhalang oleh adat istiadat setempat dan berakhir sampai salah satunya telah dijemput maut. III. Keunggulan dan Kelemahan Keunggulan Dalam cerita ini menceritakan jalinan kasih yang terjadi di dalam satu lingkungan keluarga yang dikisahkan dengan berbagai rintangan seperti yang banyak terjadi di kehidupan sehari-hari . Namun cerita ini berakhir dengan akhir yang sedih. Kelemahan Bahasa yang digunakan masih kurang dapat dipahami secara langsung, namun haruslah dibaca berulang-ulang agar mengerti jalan ceritanya. Terkadang jalan ceritanya bersifat fiktif dan diceritakan terlalu mendramatisir. COVER BOOK IV. Unsur Intrinsik a. Tema Tidak selamanya kebahagiaan dapat diperoleh dengan mudah harus ada pengorbanan. b. Latar Sipirok, Deli, dan Medan. c. Plot / Alur Alur Maju. d. Sudut Pandang Orang ketiga tunggal. e. Penokohan dan Perwatakan 1. Mariamin Seorang yang penurut, ramah, taat pada orang tuanya . 2. Aminuddin Orang yang baik, perhatian, dan baik budi pekertinya. 3. Ibu Mariamin,Nuria Perhatian baik terhadap anaknya sendiri maupun terhadap kemenakannya, baik,dan ramah. 4. Tohir Sultan Baringin Ayah Mariamin, ia suka berjudi, pemarah, mau menang sendiri, dan suka berbicara kasar. 5. Baginda Diatas Ayah Aminuddin, ia seorang bangsawan kaya, disegani oleh bawahan karena sifatnya yang mulia. f. Bahasa Bahasa Melayu. g. Amanat Untuk memperoleh segala yang kita inginkan terutama kebahagiaan kita harus bersabar. Novel Azab dan Sengsara merupakan karya dari Merari Siregar yang diterbitkan pada tahun 1972. Buku dengan mengisahkan kisah percintaan dari Mariamin dan Aminuddin. Penasaran dengan isi bukunya? Kamu bisa baca resensi novel azab dan sengsara di artikel ini. Di sini akan di bahas secara lengkap mengenai unsur-unsur buku ini. Mulai dari identitas, sinopsis, unsur intrinsik, ekstrinsik, kelebihan, kekurangan hingga pesan moral yang terkandung dalam novel. Simak yuk! Identitas Novel Judul NovelAzab dan SengsaraPenulisMerari SiregarJumlah halaman163 halamanUkuran buku14,8×21 cmPenerbitPT. Bentang PustakaKategoriFiksi RomanceTahun Terbit1972Harga novelRp. Novel azab dan sengsara ini merupakan sebuah karya dari Merari Siregar yang diterbitkan pada tahun 1972. Dan telah mengalami lebih dari 20 kali cetakan oleh PT. Balai Pustaka. Buku dengan ketebalan 163 halaman. Sinopsis Novel Azab dan Sengsara Di kota Sipirok tinggal seorang gadis bernama Mariamin dia tinggal di sebuah pondok bambu beratap injuk di tengah kota Sipirok. Aminuddin kekasih Mariamin datang menemuinya. Ia ingin berpamitan untuk mencari uang yang banyak agar Aminuddin bisa meikahi Mariamin. Mariamin sangat sedih mendengar hal ini. Setelah Aminuddin meyakinkan akhirnya ia mengikhlaskan kepergian kekasihnya itu. Aminuddin berjanji akan mengeluarkan Mariamin dari kesengsaraannya. Meski Aminunddin adalah anak orang kaya yang merupakan seorang anak kepala kampung yang terkenal di Sipirok. Harta benda miliki orang tua Aminuddin sangatlah banyak. Tapi, Aminuddin yang cerdas, rajin dan bertabiat baik ia ingin bekerja sendiri demi mendapatkan uang. Dulu ayah Mariamin juga merupakan seorang yang kaya raya tapi akibat tabiatnya yang suka menghambur-hamburkan uang, judi, malas, tamak dan kasar akhirnya ia menjadi orang yang miskin. Suatu ketika Mariamin terpeleset di jembatan bambu dan Aminuddin terjun ke sungai untuk menyelamatkan Mariamin dan akhirnya jiwanya terselamatkan. Karena kejadian itu Mariamin merasa memiliki hutang budi terhadap Aminuddin. Saat Aminuddin sudah mengumpulkan uang ia ingin orangtuanya menjemput Mariamin karena ingin menikahinya. Tapi yang orang tua Aminuddin bawa adalah gadis lain dan itu membuatnya kecewa tapi tidak bisa menolak permintaan orang tuanya. Begitu pun Mariamin merasa kecewa akan tetapi ia juga tak bisa berbuat banyak. Hingga akhirnya ia sakit. Dan orang tua Aminuddin akhirnya meminta maaf secara langsung dan Mariamin memaafkannya. Hingga suatu ketika ia dilamar oleh seorang lelaki bernama Kasibun. Dan mereka akhirnya menikah. Tapi Mariamin tidak bisa melayani Kasibun karena Kasibun memiliki penyakit menular. Dan akhirnya Kasibun membawa Mariamin ke Medan. Disana ia bisa bertemu kembali dengan mantan kekasihnya yaitu Aminuddin. Dan Mariamin dan Aminuddin pernah bertemu dan membuat Kasibun cemburu hingga sering menyiksa Mariamin. Lalu bagaimana kelanjutan kisah mereka? Akankah Mariamin bisa mendapatkan kebahagiaan? Atau malah terkubur dengan kesengsaraanya? Yuk, baca novel azab dan sengsara. Unsur Intrinsik Novel Dalam resensi novel azab dan sengsara terdapat unsur intrinsik di dalamnya yaitu 1. Tema Tema yang diangkat dalam novel ini yaitu kisah percintaan yang terhalang restu orang tua dan adat di Tapanuli. 2. Tokoh dan Penokohan Berikut ini merupakan beberapa tokoh dalam novel azab dan sengsara, diantaranya adalah Aminuddin, ia sosok yang baik hati, pengibah, senang membantu, rajin dan pandai Mariamin. Baik hati, pemaaf, rajin, setia, berbakti dan lemah lembut Nuria, sabar, bijaksana, sayang keluarga dan lemah lembut Sutan Baringin, pemarah, suka berjudi, suka beperkara, tidak peduli Baginda Diatas, sombong, mau menang sendiri, gengsi Kasibun, pemarah, pencemburu dan suka memaksakan kehendak Dan masih banyak yang lainnya 3. Alur Alur yang digunakan dalam novel ini yaitu menggunakan alur campuran. 4. Latar Waktu Latar waktu yang digunakan yaitu pagi hari, siang hari dan juga malam hari. 5. Latar Tempat Latar tempat yang digunakan dalam novel yaitu di kota Siporak dan di Medan. 6. Sudut Pandang Menggunakan sudut pandang orang ketiga yang serba tahu. 7. Gaya Bahasa Gaya bahasa yang menggunakan bahasa Medan asli. 8. Amanat Bagaimana pun cobaan dan derita yang kita hadapi jangan lupa kepada Allah SWT. Dan janganlah mencintai karena harta tahta dan juga kedudukan. Dan berpikirlah sebelum bertindak agar kamu tidak menyesal pada akhirnya. Unsur Ekstrinsik Novel Berikut merupakan unsur ekstrinsik dalam novel azab dan sengsara, diantaranya 1. Nilai Sosial Untuk menyelesaikan masalah Nuria mengumpulkan kaum keluarganya serta para tetua kampung untuk mensehati suaminya. 2. Nilai Moral Aminuddin merupakan anak yang berbakti kepada orang tuanya dan menuruti semua kemauan orang tuanya. 3. Nilai Kebudayaan Orang Tapanuli yang masih mempertanyakan masalah jodoh ke dukun untuk menanyakan untung rugi perkawinan. Kelebihan Novel Cerita ini banyank memberikan pesan moral untuk kehidupan Menggunakan ungkapan nilai kesastraan Mengajarkan arti sebuah kesabaran dalam menghadapi sebuah cobaan Kekurangan Novel Menggunakan kata-kata yang sulit dipahami Karena terdapat kata-kata yang menggunakan bahasa asli Medan sehingga bagi yang kurang paham akan sulit memahaminya Banyak kata-kata yang tidak baku Pesan Moral Novel Azab dan Sengsara Terakhir dari resensi novel azab dan sengsara yaitu pesan moral yang terkandung dalam novel tersebut yaitu Bagaimana pun cobaan dan derita yang kita hadapi jangan lupa kepada Allah SWT. Dan janganlah mencintai karena harta tahta dan juga kedudukan. Dan berpikirlah sebelum bertindak agar kamu tidak menyesal pada akhirnya. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Novel Azab dan sengsara merupakan novel klasik karya Merari Siregar yang ditandai dengan penggunaan bahasa melayu yang kental pada ceritanya. Novel setebal 123 halaman ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1920 oleh Balai Pustaka. Merari Siregar lahir di Sipirok pada tanggal 13 Juli 1896 dan sempat bersekolah di Kweekschool Oost en West Gunung Sahari, Jakarta. Selain menulis novel Azab dan Sengsara, ia juga sempat menulis novel Binasa Karena Gadis Priangan, Cerita tentang Busuk dan Wanginya Kota Betawi, dan Cinta dan Hawa Nafsu. Ia meninggal pada 23 April 1941 di Kalianget pada usianya yang ke-44 tahun. Novel ini berfokus pada kehidupan tokoh utamanya yaitu Mariamin. Kehidupan Mariamin menjadi tidak menentu sejak kematian ayahnya. Masalah mulai datang satu per satu, yang membuatnya merasa sengsara. Selain kematian ayahnya, hal lain yang membuatnya sedih adalah Mariamin kehilangan sosok pria yang dicintainya, Aminuddin. Mariamin telah menjalin hubungan asmara yang cukup lama dengan Aminuddin. Bahkan, mereka berdua sudah saling mengenal satu sama lain sejak mereka berdua duduk di bangku sekolah dasar. Namun, takdir berkata lain. Kisah cinta mereka harus kandas ketika Aminuddin dipaksa oleh ayahnya untuk menikah dengan wanita lain. Padahal, awalnya Mariamin dan Aminuddin telah sepakat untuk menikah. Kondisi Mariamin semakin buruk lagi ketika dirinya terpaksa menikah dengan Kasibun. Kasibun ternyata mengidap penyakit kelamin menular yang membuat Mariamin menolak berhubungan badan dengan suaminya itu. Akibat nafsu yang tak terpenuhi itu, suaminya mulai gelap mata dan akhirnya berani memukul dan menyiksa Mariamin. Kritik sastra objektif adalah cara untuk memandang suatu karya sastra sebagai karya yang berdiri sendiri. Artinya, karya sastra menjadi objek yang dapat berdiri sendiri dan mempunyai lingkungan kehidupannya sendiri. Kritik sastra objektif memisahkan karya sastra dari pengarang, pembaca, dan realita. Karya sastra dipandang sebagai kesatuan yang tersusun dari bagian-bagian yang saling Azab dan Sengsara ini mengangkat tema tentang adat dan kebiasaan masyarakat suku Batak yang dapat menyebabkan kesengsaraan dalam kehidupan. Adat dan kebiasaan yang dimaksud disini adalah adat dan kebiasaan masyarakat suku Batak yang seringkali menjodohkan anaknya yang akhirnya membuat anaknya sengsara akibat perjodohan itu. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan Siregar 1920, "Kedua laki-istri itu [mufakat] akan mencarikan jodoh anak mereka itu." hal. 91. Perjodohan ini umumnya dilakukan oleh kedua orang tuanya dengan memilih menantu yang dianggap baik dan berasal dari keluarga berada tidak dipandang hina. Seperti pada kutipan Siregar 1920, "Mariamin anak orang miskin akan menjadi istri anak mereka itu? Tentu tak mungkin, karena tak patut! Bukankah orang itu telah hina di mata orang, lagi pula tak berada, boleh dikatakan orang yang semiskin miskinnya di daerah Sipirok?" hal. 91. Kutipan ini menunjukkan bahwa mereka tidak setuju bila nantinya Mariamin yang akan menjadi menantunya, karena Mariamin berasal dari keluarga miskin dan dipandang hina. Sedangkan keluarga Aminuddin merupakan keluarga yang terpandang, maka setidaknya Aminuddin harus memiliki menantu yang juga berasal dari keluarga terpandang. Meskipun Aminuddin sudah sangat dekat dan mengenal Mariamin dengan baik, orang tuanya tetap tidak menginginkannya. Seperti dalam kutipan Siregar 1920, "Oleh sebab itu tiadalah ingin mereka itu lagi akan datang ke rumah istri mendiang Sutan Baringin menanyakan anak dara kesukaan Aminuddin itu; sungguhpun pertalian mereka itu masih dekat." hal. 91. Kutipan di atas menunjukkan bahwa orang tua Aminuddin tidak peduli dengan apa yang disukai oleh Aminuddin dan lebih mementingkan adat dan bagaimana reaksi orang lain bila nantinya Aminuddin menikah dengan Mariamin. Mengutip Siregar 1920, "Ayahnya itu membawa anak gadis yang bagus, akan tetapi bukanlah Mariamin yang diharap-harapnya itu ...." hal. 101. Dari kutipan tersebut, kita dapat melihat bahwa orang tua Aminuddin membawa gadis lain pilihan mereka untuk dinikahkan dengan Aminuddin tanpa persetujuan Aminuddin terlebih dahulu. Aminuddin pun tidak dapat menolak pernikahan itu karena akan membuat malu keluarganya. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan Siregar 1920, "Apakah kata bapaknya nanti, bila anak gadis yang dijemput ayahnya itu dikembalikan kepada orang tuanya? Itu belum pernah kejadian dan bukan adat!" hal. 102. Pada akhirnya bukan hanya Aminuddin yang dijodohkan oleh orang tuanya, tetapi Mariamin juga mengalami hal yang sama. Mariamin dijodohkan dengan laki-laki asal Padangsidempuan yang tidak dikenalnya. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan Siregar 1920, "Kesudahannya ia kawin dengan orang muda dari Padangsidempuan, orang muda yang tiada dikenalnya, orang muda yang tiada dicintainya, jodoh yang tak disukainya." hal. 110. Setelah menikah dengan pria asal Padangsidempuan ini, Mariamin mengetahui bahwa suaminya ternyata memiliki penyakit yang dapat menular ketika berhubungan badan. Hal ini dapat dibuktikan dalam kutipan Siregar 1920, ""Patutlah ia pucat dan kurus," kata Mariamin pula dalam hatinya. "Seharusnyalah saya menjaga diriku supaya jangan menjangkit penyakitnya itu kepadaku." hal. 114. Hal ini terjadi karena mereka belum saling mengenal sebelumnya dan langsung menikah akibat adat dan kebiasaan perjodohan itu. Tidak hanya itu, hubungan rumah tangga mereka juga tidak harmonis karena Mariamin menolak untuk berhubungan badan dengan suaminya itu. Hal ini dapat dibuktikan dalam kutipan Siregar 1920, "Pertengkaran yang serupa itu kerap kali kejadian di antara mereka itu, sehingga akhir-akhirnya Kasibun yang bengis itu tak segan menampar muka Mariamin. Bukan ditamparnya saja, kadang-kadang dipukulnya, disiksanya ..." hal. 119. Dari penjelasan-penjelasan dan bukti-bukti kalimat di atas, dapat disimpulkan bahwa Aminuddin dan Mariamin mengalami kesengsaraan akibat adat dan kebiasaan perjodohan yang mengharuskan mereka dan penokohan merupakan salah satu unsur intrinsik dari sebuah novel. Tokoh terbagi menjadi dua, yaitu tokoh utama dan tokoh pembantu. Tokoh utama pada novel Azab dan Sengsara adalah Mariamin dan Aminuddin. Sedangkan tokoh pembantu pada novel Azab dan Sengsara adalah Sutan Baringin Ayah Mariamin, Baginda Mulia saudara kandung Sutan Baringin, Nuria Ibu Mariamin, Baginda Diatas Ayah Aminuddin, Ibu Aminuddin, Marah Sait, Kasibun. Penokohan merupakan cara pengarang untuk menunjukkan sifat/karakter dari tokoh yang ada di dalam sebuah novel. Penokohan sosok Mariamin dapat digambarkan sebagai orang yang perhatian, yang dapat dibuktikan pada kutipan Siregar 1920, ""Sudahkah berkurang sesaknya dada Ibuku itu?" tanyanya sambil dirabanya muka ibunya yang sakit itu." hal. 5. Kalimat di atas menunjukkan bahwa Mariamin merupakan sosok yang perhatian dengan Ibunya yang sedang sakit. Selain perhatian, Mariamin juga anak yang penurut, dapat dibuktikan dalam kutipan Siregar 1920, ""Sedapat-dapatnya anakanda akan menurut perkataan bunda itu," sahut Mariamin, akan tetapi dalam hatinya ia merasa bala yang akan menimpa dirinya." hal. 112. Meskipun Mariamin merasa bahwa akan ada hal buruk yang menghampirinya, Mariamin tetap nurut akan perkataan Ibunya itu. Tidak hanya itu, Mariamin juga merupakan sosok yang lemah lembut. Hal ini dapat dibuktikan dalam kutipan Siregar 1920, ""Mengapa angkang bertanya lagi?" jawab Mariamin, perempuan muda itu dengan suara yang lembut, karena itulah kebiasaannya; jarang atau belumlah pernah ia berkata marah-marah atau merengut, selamanya dengan ramah-tamah, lebih-lebih di hadapan anak muda, sahabatnya yang karib itu." hal. 4. Mariamin juga memiliki sifat yang jujur, hal ini dapat dibuktikan dalam kutipan Siregar 1920, "Dengan tiada disembunyi-sembunyikan Mariamin menceritakan sekalian perkataan Aminuddin itu." hal. 11. Dalam kutipan tersebut, terlihat bahwa Mariamin tidak menyembunyikan apapun, ia menceritakan semua perkataan Aminuddin kepada Ibunya itu. Mariamin juga merupakan anak yang berbakti terhadap orang tuanya, terlihat dalam kutipan Siregar 1920, "Bagaimanakah dapat ia menolak perkawinan itu, karena ibunya berkehendak demikian. Menerangkan keberatannya serta perasaan kemauannya, tetapi membantah perkataan ibunya tak sampai hatinya; karena belum pernah diperbuatnya." hal. 109. Beralih ke penokohan sosok Aminuddin, ia juga seorang yang penurut dan berbakti pada orang tua, dapat dilihat dalam kutipan Siregar 1920, "Meskipun Aminuddin mula-mula menolak perkataan itu, tetapi pada akhirnya terpaksalah ia menurut bujukan dan paksaan orang itu semua." hal. 102. Kutipan tersebut menunjukkan sifat Aminuddin yang awalnya menolak, tetapi ia akhirnya menerima permintaan orang tuanya itu. Hal ini menunjukkan bahwa Aminuddin merupakan anak yang penurut pada orang tuanya meskipun hal tersebut menyakitkan. Selain itu, Aminuddin juga merupakan anak yang rajin pada saat ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Hal ini dapat dilihat pada kutipan Siregar 1920, "Meskipun ia yang terlebih kecil di antara kawan-kawannya, akan tetapi ia amat rajin belajar, baik di sekolah atau di rumah, sehingga gurunya amat menyayangi dia." hal. 15. Suka menolong juga menjadi sifat yang dimiliki Aminuddin sejak ia kecil. Hal ini dapat dibuktikan pada kutipan Siregar 1920, "Di luar dan di dalam sekolah ia selalu menolong mereka, asal dapat olehnya. Ia dimarahi sekali-sekali oleh gurunya, kadang-kadang sampai mendapat hukuman, tetapi bukanlah karena nakal atau jahatnya, hanyalah karena menolong temannya, waktu berhitung." hal. 15. Dari kutipan tersebut, sangatlah jelas bahwa Aminuddin merupakan orang yang ringan tangan, sampai-sampai ia terlalu baik saat membantu temannya. Selain Mariamin dan Aminuddin, kedua orang tua mereka dan Kasibun juga memiliki peran yang penting dalam novel ini. Sutan Baringin merupakan ayah dari Mariamin yang memiliki sifat licik, hal itu dapat dibuktikan dalam kutipan Siregar 1920, "Utangku, yaitu bagiannya yang kuhabiskan, haruslah pula kubayar, karena tiada dapat disembunyikan lagi. Tapi siapa tahu, aku harus mencari akal." hal. 61. Kutipan tersebut menunjukkan kelicikan Sutan Baringin yang ingin mencari cara agar ia mendapat seluruh bagian dari harta warisan orang tuanya, padahal harusnya ada bagian yang diberikan kepada saudaranya. Ayah Mariamin itu juga merupakan sosok yang pemarah, dapat dibuktikan dalam kutipan Siregar 1920, "Tutur yang lemah-lembut itu tiada berguna lagi. Bukanlah dia akan melembutkan hati Sutan Baringin, tetapi menerbitkan nafsu marah saja. Dengan suara yang merengus dan keras ia berkata, "Diamlah engkau, apakah gunanya engkau berkata-kata itu?"" hal. 65. Kutipan tersebut menunjukkan sifat Sutan Baringin yang pemarah, walaupun istrinya sudah berbicara dengan lemah lembut, tetapi ia tetap saja marah. Tidak hanya itu, Sutan Baringin juga memiliki sifat tamak yang terlihat jelas dalam kutipan Siregar 1920, "Demikianlah budi Sutan Baringin terhadap kepada saudaranya yang datang dari tanah rantau itu. Hati cemburu, loba, tamak, dengki, dan khizit, sekaliannya itu sudah berurat berakar dalam darahnya; itulah yang akan merusakkan diri Sutan Baringin." hal. 61. Terlepas dari sifat Ayah Mariamin yang kurang baik, Mariamin memiliki ibu yang penyayang, yang dapat dibuktikan dalam kutipan Siregar 1920, ""Anakku sudah makan?" tanya si ibu seraya menarik tangan budak itu, lalu dipeluknya dan diciumnya berulang-ulang." hal. 7. Kutipan tersebut menunjukkan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya, yaitu Mariamin. Selain penyayang, Ibu Mariamin juga seorang yang penyabar, hal itu dapat dibuktikan dalam kutipan Siregar 1920, "Akan tetapi si ibu itu seorang perempuan yang sabar dan keras hati." hal. 83. Sementara, Baginda Diatas yang merupakan ayah dari Aminuddin memiliki sifat yang sombong. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan Siregar 1920, "Mariamin anak orang miskin akan menjadi istri anak mereka itu? Tentu tak mungkin, karena tak patut!" hal. 91. Kutipan tersebut menunjukkan bahwa Baginda Diatas tidak ingin untuk menikahkan Aminuddin dengan Mariamin oleh karena Mariamin adalah seorang gadis yang miskin. Padahal mereka berdua sudah saling mengenal sejak kecil dan memiliki hubungan yang sangat dekat. Meskipun begitu, Ibu Aminuddin memiliki sifat baik hati yang dapat dibuktikan dalam kutipan Siregar 1920, "Kalau Mariamin telah menjadi menantunya, tentu adalah perubahan kemelaratan orang itu, pikir ibu Aminuddin." hal. 91. Dari kutipan tersebut, dapat dilihat sifat baik hatinya, karena awalnya Ibu Aminuddin mendukung permintaan anaknya untuk menikah dengan Mariamin meskipun ia seorang gadis miskin. Ibunya berpikir jika Aminuddin menikahi Mariamin, nasib Mariamin akan menjadi lebih baik. Tidak hanya baik hati, Ibu Aminuddin juga memiliki sifat penyayang. Hal ini dapat dibuktikan dalam kutipan Siregar 1920, "Si ibu yang melihat kelakuan suaminya kepada anaknya, acap kali berkata, "Janganlah kakanda terlalu keras kepada anak kita itu! Umurnya belum berapa dan tulangnya belum kuat, tetapi kakanda selalu menyuruh dia bekerja." hal. 16. Kutipan tersebut menunjukkan bahwa Ibu Aminuddin sayang terhadap anaknya, Aminuddin. Ia tidak ingin anaknya yang masih kecil sudah bekerja terlalu keras. Kasibun, suami dari Mariamin yang merupakan hasil perjodohan dari ibunya memiliki sifat yang kasar. Hal ini dapat dibuktikan dalam kutipan Siregar 1920, "Pertengkaran yang serupa itu kerap kali kejadian di antara mereka itu, sehingga akhir-akhirnya Kasibun yang bengis itu tak segan menampar muka Mariamin. Bukan ditamparnya saja, kadang-kadang dipukulnya, disiksanya ..." hal. 119. Kutipan tersebut menunjukkan sifat Kasibun yang sangat kasar terhadap istrinya sendiri. Terlihat dari kutipan bahwa ia tak segan untuk menampar, memukul, bahkan menyiksa yang digunakan dalam novel Azab dan Sengsara ini adalah alur campuran, karena runtutan alur pada novel terdapat alur maju dan alur mundur. Keseluruhan alur dapat dipahami dengan jelas karena perubahan-perubahan alur yang terlihat dengan jelas. Kisah diawali dengan perpisahan Aminuddin dan Mariamin di depan rumah Mariamin. Aminuddin berpamitan pada Mariamin dan mengatakan ia akan pergi merantau ke Deli untuk mencari pekerjaan. Hal ini dapat dibuktikan dalam kutipan Siregar 1920, "Saya datang ini hanya hendak bersua dengan kau sebentar saja. Malam ini saya hendak pergi ke rumah seorang sahabatku yang baru datang dari Deli." hal. 4. Kisah dilanjutkan dengan menceritakan masa lalu Aminuddin dan Mariamin saat mereka masih kanak-kanak. Hal ini dapat dilihat pada kutipan Siregar 1920, "Mariamin anak yang cantik itu, duduk sekarang di kelas dua dan Aminuddin di kelas empat." hal. 20. Lalu kisah kembali dilanjutkan pada "masa sekarang" setelah Aminuddin meninggalkan kampung halamannya tiga bulan lamanya. Hal ini dapat dibuktikan dalam kutipan Siregar 1920, "Tiga bulan sudah lamanya saya meninggalkan negeri tumpah darah kita, meninggalkan kampung halaman tempat kita bermain-main, meninggalkan kekasihku, Mariamin." hal. 87. Kisah itu dilanjutkan hingga akhir novel, yang berarti tidak ada lagi pergantian alur mundur hingga akhir kisahnya. Latar yang terdapat dalam novel Azab dan Sengsara terbagi menjadi tiga, yaitu latar tempat, latar waktu, dan latar sosial. Latar-latar dalam novel ini digambarkan dengan jelas, sehingga pembaca dapat mengetahui latar-latar yang digunakan dalam novel ini. Latar tempat dalam novel Azab dan Sengsara ini adalah Kota Sipirok, yang dapat dibuktikan dalam kutipan Siregar 1920, "Akan tetapi siapakah yang duduk di sana, di sebelah rusuk rumah yang beratap ijuk dekat sungai yang mengalir di tengah-tengah kota Sipirok itu?" hal. 2. Batu besar juga menjadi latar tempat dalam novel ini yang dapat dibuktikan dengan kutipan Siregar 1920, "Sahut gadis itu seraya berdiri dari batu besar itu, yang biasa tempat dia duduk pada waktu petang." hal. 3. Selain itu, Rumah Mariamin juga menjadi latar tempat dalam novel ini yang dapat dibuktikan dalam kutipan Siregar 1920, "Sekarang baiklah kita tinggalkan rumah kecil tempat kediaman ibu dan anaknya itu." hal. 13. Kampung A juga menjadi salah satu latar tempat pada novel ini. Hal ini dapat dibuktikan dalam kutipan Siregar 1920, "Anak muda itu anak kepala kampung yang memerintahkan kampung A itu." hal. 13. Tidak hanya itu, Deli dan Medan juga termasuk dalam latar tempat pada novel ini. Hal ini dapat dibuktikan dalam kutipan Siregar 1920, "Setelah lengkaplah sekalian, Baginda Diatas pun berangkatlah ke Deli mengantarkan menantunya itu." hal. 96, dan "Ia sudah mendengar kabar perkawinan Mariamin itu, itulah sebabnya ia datang ke Medan, dengan maksud hendak bersua dengan Mariamin, sahabatnya yang tak dilupakannya itu." hal. 116. Beralih ke latar waktu, kejadian dalam kisah ini terjadi pada pagi, sore, dan malam hari. Hal ini dapat dibuktikan dalam kutipan Siregar 1920, "Waktu pukul tujuh pagi Mariamin sudah sedia di hadapan rumahnya menantikan Aminuddin, supaya mereka itu sama-sama pergi ke sekolah." hal. 21, "Hari yang panas itu berangsur-angsur menjadi dingin, karena matahari, raja siang itu, akan masuk ke dalam peraduannya, ke balik Gunung Sibualbuali, yang menjadi [batas] dataran tinggi Sipirok yang bagus itu." hal. 2, "Ah, rupanya hari sudah malam." hal. 3. Latar sosial merupakan hal yang penting dalam novel ini, karena latar sosial menjadi pokok permasalahan pada kisah ini. Salah satu latar sosial yang paling menonjol adalah mengenai perjodohan. Hal ini dapat dilihat pada kutipan Siregar 1920, "Mereka itu memandang perkawinan itu suatu kebiasaan, yakni kalau anaknya yang perempuan sudah genap umurnya harus dijodohkan." hal. 40, "Dalam perkawinan, perkataan orang tualah yang berlaku, dan anak itu hanya menurut saja." hal. 86. Selain itu, ada pula latar sosial lainnya seperti tidak boleh menikah dengan marga yang sama. Hal ini dapat dibuktikan dalam kutipan Siregar 1920, "Maka barang siapa yang hendak kawin, tiadalah boleh mengambil orang yang semarga dengan dia." hal. 94. Menikah haruslah dengan orang yang berasal dari keluarga yang sepadan atau lebih tinggi juga menjadi salah satu latar sosial dalam novel ini. Hal ini dapat dilihat dari kutipan Siregar 1920, "Mariamin anak orang miskin akan menjadi istri anak mereka itu? Tentu tak mungkin, karena tak patut! Bukankah orang itu telah hina di mata orang, lagi pula tak berada, boleh dikatakan orang yang semiskin miskinnya di daerah Sipirok?" hal. 91. Tidak hanya itu, perdukunan juga menjadi bagian dari latar sosial yang terdapat dalam novel ini. Hal ini dapat dibuktikan dalam kutipan Siregar 1920, "Kamu mengatakan Mariamin juga yang baik menantu kita; kalau demikian baiklah kita pergi mendapatkan Datu Naserdung, akan bertanyakan untung dan rezeki Aminuddin, bila ia beristrikan Mariamin." hal. 92.Sudut pandang yang digunakan dalam novel Azab dan Sengsara adalah sudut pandang orang ketiga pengamat. Penulis menggunakan kata ganti orang ketiga "ia" dan menceritakan hal yang dialami oleh tokoh dalam cerita. Namun, tokoh yang diceritakan terbatas pada seorang tokoh saja. Seperti pada kutipan Siregar 1920, ""Masih di sini kau rupanya, Riam," tanya seorang muda yang menghampiri batu tempat duduk gadis itu. Yang ditanya itu terkejut, seraya memandang kepada orang yang datang itu." Dari kutipan tersebut, dapat dilihat bahwa penulis menggunakan kata ganti orang ketiga atau menyebutkan nama yaitu Riam dalam melukiskan kisah pada novel. Selain itu, penulis juga mampu mengungkapkan sesuatu yang didengar oleh tokoh Mariamin, yaitu suara pemuda yang memanggil. Mengutip Siregar 1920, ""Belumkah ia datang? Sakitkah dia? Apakah sebabnya ia sekian lama tak kulihat?" tanya perempuan itu berulang-ulang dalam hatinya." hal. 3. Dari kutipan tersebut, dapat dilihat bahwa penulis mampu melukiskan sesuatu yang dipikirkan tokoh tanpa langsung mengatakan apa perasaan yang sedang dirasakan oleh tokoh tersebut. Dari kutipan itu, penulis menggambarkan perasaan Mariamin yang khawatir karena Aminuddin tak kunjung Azab dan Sengsara karya Merari Siregar ini menggunakan cukup banyak gaya bahasa, namun yang paling menonjol adalah majas metafora, personifikasi, dan simile. Majas metafora adalah majas yang memakai analogi atau perumpamaan terhadap dua hal yang berbeda. Majas metafora dapat dilihat dalam kutipan Siregar 1920, "Oleh karena perantaraan mereka berlaki-istri sudah kurang baik, karena si laki itu pun kecil hatinya dan malu akan dirinya sendiri." hal. 115. Kutipan tersebut termasuk dalam majas metafora karena terdapat kata "kecil hati" pada kalimat tersebut. Kecil hati pada kalimat tersebut bukan berarti hatinya kecil, melainkan mudah merasa tersinggung atau marah. Sedangkan majas personifikasi berarti membandingkan antara manusia dengan benda mati, seolah-olah benda tersebut memiliki sifat layaknya manusia. Majas personifikasi dapat ditemukan dalam kutipan Siregar 1920, "Ia diayun-ayunkan angin yang lemah-lembut itu." hal. 73. Kutipan tersebut menunjukkan bahwa angin yang merupakan benda mati memiliki sifat seperti manusia, yaitu mengayun-ayun. Majas simile dapat didefinisikan sebagai majas yang mengumpamakan suatu hal dengan hal lain. Hal ini dapat dibuktikan dalam kutipan Siregar 1920, "Sekarang tak tertahan lagi olehnya, sudah habis kekuatannya, ibarat mata air yang ditutup, demikianlah kemasygulannya itu; sekarang sudah datang waktunya hendak meletus." hal. 9. Kata "ibarat" dalam kutipan tersebut menunjukkan majas simile, karena ibarat memiliki maksud yang sama dalam konteks mengumpamakan suatu hal dengan hal yang lain. 1 2 Lihat Ruang Kelas Selengkapnya

analisis novel azab dan sengsara